Mulanya aq berfikir, bahwa teman teman ku iri dengan keberadaan aq sekarang. Tapi ternyata mereka ga suka dengan "gaya bicara" ku yang berlebihan. Padahal tak ada niat sama sekali untuk menyombongkan diri, aq hanya ingin cerita kalo aq rugi sekian, misal dalam buat rumah. Itu adalah ekspresi kekesalan qu, yg sangat menyakitkan knapa sudah keluar uang banyak, tapi rumah belum selesai. Aq memang menyebutkan nominal, dan ternyata hal itu menyakitkan mereka. Dulu aq tidak pernah menyebutkan nominal, karena aq memang tidak pernah memiliki yang berarti. Baru sekarang ini mengumpulkan uang hasil kerja keras suami, harus jauh jauhan yang berakibat pada tidak lancarnya komunikasi.
Hari ini, aq belajar banyak hal "terkadang teman hanya lah teman". Tidak bisa berharap lebih, teeman terbaik adalah pasangan kita. Yg bahagia melihat kita bahagia, yang pusing ketika kita sakit. Menceritakan kejelekan pasangan ke teman, adalah pengkhiatan tertinggi. Karena teman hanya ada uang juga di omongman.
Dibelakang kita, mereka masih bilang "orang kaya baru ya?", masa suaminya kerja di luar negeri beli begitu aja ga bisa?, "cara ngomongnya nyakitin hati banget, emang gw peduli kalo lo bahagia hallo?".
Ternyata mereka ga peduli, kita bahagia atau tidak?. ternyata mereka tidak senang mendengar keluh kesah kita.kita ga bisa bayar asuransi juga di omong, diajak beli baju murah pas kita ga punya uang (aneh gitu aja ga bisa beli), apalagi kalo gw jadi hutang (sambil nangis dan menjeriiit). MasyaAllah, Sebenernya teman itu mungkin ga begitu peduli dengan keadaan kita, bahagia atau senang, mereka suka berbicara di belakang. Atau standart hidup kami yang sudah berbeda, aq terbiasa berbicara n ngobrol dengan orang orang yang pernah tinggal di luar negeri. biasa blak blakan ttg penghasilan suami. Emang tinggal di Lampung agak lebih rempong, karena jarang orang yang berpenghasilan besar. Mungkin aneh buat mereka kalo muda dan kaya, Wallahualam.
Sorry gals, mungkin butuh waktu yang agak lama untuk menjadi biasa lagi. Mungkin emang aq OKB, terserah kalian mau anggap apa? Mungkin aq terlalu "naif" terlalu berbaik sangka ke orang lain. Sedangkan orang lain belum tentu senang dengan kebahagiaan kita.
Dulu waktu jaman kuliah, ada orang yg cerita ttg barang mahal pemberian orang tua mereka, aq cuma komentar "gilee banget mahal ya num". thats all, tapi sekarang lebih complecated, well harus lebih menjaga omongan. Tidak harus dilihat orang lain bahwa kita ada, cukup aq, suami, anak dan keluarga ku yang merasakan bahwa semuanya cukup. Semua berjalan dengan baik, karena pada akhirnya "teman hanyalah teman". Inilah seninya berteman...
Semua ini pasti ada awalnya, berawal dari kesalahan ku sendiri. Yang kurang peka dan sensitif. Ga nyangka banget, ternyata orang-orang yang aq anggap dekat, bisa memberikan solusi. Hmmp (sambil menghela nafas).
Hikmahnya, sebenernya ga ada guna nya kita bercerita dengan teman sekalipun ttg permasalahan qt. Bener kata amel, keluhkan aja ke suami kita. Karena dia lah partner terbaik kita. Mungkin ada, teman yang bisa di ajak berbagi. Intinya, lebih memilah teman mana yang bisa di ajak berbagi. Seperti kata pras, kita lihat kondisi orang tersebut, dan qt harus tetep stay cool, n keep mouth lock dengan orang orang tertentu.
Intinya wen, ga perlu banyak omong.Santai aja, lebih baik bercerita dengan laptop yang tidak akan pernah protes, plus akan menjadi lucu ketika dibaca kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar