Aq ga tau, sampai sejauh mana menulis menyelesaikan masalah aq? Hanya saja aq ga tau harus berbuat apa lagi untuk mengatasi rasa kesalku. Again, soal rumah. Tuk kesekian kalinya setiap aq masuk kedalam rumah itu, fikiran ku berkecamuk, knapa ini rumah berantakan seklai? kenapa aq bisa sial hingga percaya ucapan tukang tersebut. MasyaAllah, mungkin para tetangga memperolok ku? Wallahualam, mungkin saja tidak. Yang jelas bagi ku sekarang, tidak ada orang luar yang baik untuk kita, baik itu tetangga, teman, saudara, semua sama saja. Benar-benar sama saja.
Damn, semoga kamu masuk neraka jahanam wahai tukang sialan. Ingat saya tidak akan memaafkan kamu, sepertinya kamu memanfaatkan ketidaktahuan saya akan rumah, serta arsitek yang tidak mendampingi, yang hanya menggambar. Sehingga dari awal kesalahan pun, kalian menutupinya. Perfect, saya tidak akan pernah memaafkan kamu, demi Allah tidak akan pernah.
Ditambah lagi, dengan situasi perekonomian kami, yang rada banyak hutang. Dan kenyataan hidup di arab, yang lebih mahal di banding thailand. MaysyaAllah, belom lagi niat baik ku mengajar di UBL yang hanya di hargai senilai 750 ribu per tiga mata kuliah dan per empat bulan.Belom lagi kesialan akibat teman-teman yang mencurigai aq pamer, sok kaya, dll. Serta bencana, karena aq sering curhat ketika aq ribut dengan suami ku, entah kenapa sejak di thailand, jadi sering ribut, buat rumah ga beres, dibohongin orang, motor jatuh, sering kasar, ribut ama keluarga. Bukan bermaksud menyalahkan suami, yang keras kepala unt buat rumah alih alih menyimpan uang nya dahulu, kemudian tinggal pilih rumah yang sudah jadi.
Dulu sempat, suami ingin menghentikan proses pembangunan rumah, tapi itu jugakarna aq ribut dengan dia, berantem entah karena apa, aq ingin ikut kesana dan dia dengan cuek ya sudah kalo mau kesini, uangnya ada di kamu bla bla bla seolah tidak mengharapkan kehadiran ku. Siapa yang mau ikut kalo diperlakukan seperti itu.
Aq kesel banget lho, kesel banget, knapa sellama ini terlalu naif ke orang lain. menganggap semua orang jujur. Aq kemana-mana merantau, ga taunya yang berbuat jahat adalah orang-orang yang di lampung ini. DAMN. Padahal kalau sedang merantau diluar selalu tertolong dengan kebaikan orang.
Semoga ada hikmah ya Allah.
pelangibunda
Minggu, 30 September 2012
Selasa, 25 September 2012
Berusaha Keras Menjadi Ibu dan Istri yang Baik
Profesionalisme aq menurun drastis, segala sesuatu tidak di lakukan dengan sistematis. Banyak sekali, kelakuan ku yang tidak mencerminkan pendidikan yang pernah aq enyam.
Sebagai seorang istri, sering sekali aq mengeluh ketika suami memberikan perintah. Masih berat rasanya memasak yang sempurna buat suami. Bangun pagi, beres-beres rumah atau dapur dan mulai menyiapkan makanan kesukaan nya. Hidup ku terlalu nyaman, ada pembantu, ada ibuku yang setiap hari memasak masakan enak.
Belom lagi ke anak, selalu bangun siang padahal anak harus makan. aq tidak memikirkan anak mau makan apa.Aq ga perlu iri dengan suami, ketika jam tidur suami lebih panjang di banding aq. Benar semua ucapan suamiku, aq bukan seorang ibu yang baik. Ditambah dengan insiden "pertemanan" tadi, ini adalah momen yang baik untuk aq berubah menjadi lebih baik lagi.
Sekarang memang tidak ada aktifitas formal yang dilakukan, hutang puasa aq banyak, lebih baik bayar hutang, belajar masak makanan kesukaan anak. Belajar masak, persiapan untuk keluar negeri. Is not aesy, semua harus di usahakan dengan langkah awal "bangun pagi". Karena memang itu pekerjaan seorang ibu, meski harus sering banun malam, dan shubuh sudah harus bangun lagi. Tetap harus semangat menjadi ibu dan istri terbaik.
Aq punya ide bagus, ketika keluarga sedang lengkap berkumpul, sarapan buat masakan yang sederhana, buat jus melom atau wortel jeruk, jus semangka jeruk, melon nanas, pasti suami senang. Misi ku sekrang adalah harus menyenangkan suami dan anak, serta memberikan pendidikan terbaik untuk anak.
Ya Allah hanya Engkau yang Maha Mengetahui....^^
Sebagai seorang istri, sering sekali aq mengeluh ketika suami memberikan perintah. Masih berat rasanya memasak yang sempurna buat suami. Bangun pagi, beres-beres rumah atau dapur dan mulai menyiapkan makanan kesukaan nya. Hidup ku terlalu nyaman, ada pembantu, ada ibuku yang setiap hari memasak masakan enak.
Belom lagi ke anak, selalu bangun siang padahal anak harus makan. aq tidak memikirkan anak mau makan apa.Aq ga perlu iri dengan suami, ketika jam tidur suami lebih panjang di banding aq. Benar semua ucapan suamiku, aq bukan seorang ibu yang baik. Ditambah dengan insiden "pertemanan" tadi, ini adalah momen yang baik untuk aq berubah menjadi lebih baik lagi.
Sekarang memang tidak ada aktifitas formal yang dilakukan, hutang puasa aq banyak, lebih baik bayar hutang, belajar masak makanan kesukaan anak. Belajar masak, persiapan untuk keluar negeri. Is not aesy, semua harus di usahakan dengan langkah awal "bangun pagi". Karena memang itu pekerjaan seorang ibu, meski harus sering banun malam, dan shubuh sudah harus bangun lagi. Tetap harus semangat menjadi ibu dan istri terbaik.
Aq punya ide bagus, ketika keluarga sedang lengkap berkumpul, sarapan buat masakan yang sederhana, buat jus melom atau wortel jeruk, jus semangka jeruk, melon nanas, pasti suami senang. Misi ku sekrang adalah harus menyenangkan suami dan anak, serta memberikan pendidikan terbaik untuk anak.
Ya Allah hanya Engkau yang Maha Mengetahui....^^
Teman ya Teman
Mulanya aq berfikir, bahwa teman teman ku iri dengan keberadaan aq sekarang. Tapi ternyata mereka ga suka dengan "gaya bicara" ku yang berlebihan. Padahal tak ada niat sama sekali untuk menyombongkan diri, aq hanya ingin cerita kalo aq rugi sekian, misal dalam buat rumah. Itu adalah ekspresi kekesalan qu, yg sangat menyakitkan knapa sudah keluar uang banyak, tapi rumah belum selesai. Aq memang menyebutkan nominal, dan ternyata hal itu menyakitkan mereka. Dulu aq tidak pernah menyebutkan nominal, karena aq memang tidak pernah memiliki yang berarti. Baru sekarang ini mengumpulkan uang hasil kerja keras suami, harus jauh jauhan yang berakibat pada tidak lancarnya komunikasi.
Hari ini, aq belajar banyak hal "terkadang teman hanya lah teman". Tidak bisa berharap lebih, teeman terbaik adalah pasangan kita. Yg bahagia melihat kita bahagia, yang pusing ketika kita sakit. Menceritakan kejelekan pasangan ke teman, adalah pengkhiatan tertinggi. Karena teman hanya ada uang juga di omongman.
Dibelakang kita, mereka masih bilang "orang kaya baru ya?", masa suaminya kerja di luar negeri beli begitu aja ga bisa?, "cara ngomongnya nyakitin hati banget, emang gw peduli kalo lo bahagia hallo?".
Ternyata mereka ga peduli, kita bahagia atau tidak?. ternyata mereka tidak senang mendengar keluh kesah kita.kita ga bisa bayar asuransi juga di omong, diajak beli baju murah pas kita ga punya uang (aneh gitu aja ga bisa beli), apalagi kalo gw jadi hutang (sambil nangis dan menjeriiit). MasyaAllah, Sebenernya teman itu mungkin ga begitu peduli dengan keadaan kita, bahagia atau senang, mereka suka berbicara di belakang. Atau standart hidup kami yang sudah berbeda, aq terbiasa berbicara n ngobrol dengan orang orang yang pernah tinggal di luar negeri. biasa blak blakan ttg penghasilan suami. Emang tinggal di Lampung agak lebih rempong, karena jarang orang yang berpenghasilan besar. Mungkin aneh buat mereka kalo muda dan kaya, Wallahualam.
Sorry gals, mungkin butuh waktu yang agak lama untuk menjadi biasa lagi. Mungkin emang aq OKB, terserah kalian mau anggap apa? Mungkin aq terlalu "naif" terlalu berbaik sangka ke orang lain. Sedangkan orang lain belum tentu senang dengan kebahagiaan kita.
Dulu waktu jaman kuliah, ada orang yg cerita ttg barang mahal pemberian orang tua mereka, aq cuma komentar "gilee banget mahal ya num". thats all, tapi sekarang lebih complecated, well harus lebih menjaga omongan. Tidak harus dilihat orang lain bahwa kita ada, cukup aq, suami, anak dan keluarga ku yang merasakan bahwa semuanya cukup. Semua berjalan dengan baik, karena pada akhirnya "teman hanyalah teman". Inilah seninya berteman...
Semua ini pasti ada awalnya, berawal dari kesalahan ku sendiri. Yang kurang peka dan sensitif. Ga nyangka banget, ternyata orang-orang yang aq anggap dekat, bisa memberikan solusi. Hmmp (sambil menghela nafas).
Hikmahnya, sebenernya ga ada guna nya kita bercerita dengan teman sekalipun ttg permasalahan qt. Bener kata amel, keluhkan aja ke suami kita. Karena dia lah partner terbaik kita. Mungkin ada, teman yang bisa di ajak berbagi. Intinya, lebih memilah teman mana yang bisa di ajak berbagi. Seperti kata pras, kita lihat kondisi orang tersebut, dan qt harus tetep stay cool, n keep mouth lock dengan orang orang tertentu.
Intinya wen, ga perlu banyak omong.Santai aja, lebih baik bercerita dengan laptop yang tidak akan pernah protes, plus akan menjadi lucu ketika dibaca kembali.
Hari ini, aq belajar banyak hal "terkadang teman hanya lah teman". Tidak bisa berharap lebih, teeman terbaik adalah pasangan kita. Yg bahagia melihat kita bahagia, yang pusing ketika kita sakit. Menceritakan kejelekan pasangan ke teman, adalah pengkhiatan tertinggi. Karena teman hanya ada uang juga di omongman.
Dibelakang kita, mereka masih bilang "orang kaya baru ya?", masa suaminya kerja di luar negeri beli begitu aja ga bisa?, "cara ngomongnya nyakitin hati banget, emang gw peduli kalo lo bahagia hallo?".
Ternyata mereka ga peduli, kita bahagia atau tidak?. ternyata mereka tidak senang mendengar keluh kesah kita.kita ga bisa bayar asuransi juga di omong, diajak beli baju murah pas kita ga punya uang (aneh gitu aja ga bisa beli), apalagi kalo gw jadi hutang (sambil nangis dan menjeriiit). MasyaAllah, Sebenernya teman itu mungkin ga begitu peduli dengan keadaan kita, bahagia atau senang, mereka suka berbicara di belakang. Atau standart hidup kami yang sudah berbeda, aq terbiasa berbicara n ngobrol dengan orang orang yang pernah tinggal di luar negeri. biasa blak blakan ttg penghasilan suami. Emang tinggal di Lampung agak lebih rempong, karena jarang orang yang berpenghasilan besar. Mungkin aneh buat mereka kalo muda dan kaya, Wallahualam.
Sorry gals, mungkin butuh waktu yang agak lama untuk menjadi biasa lagi. Mungkin emang aq OKB, terserah kalian mau anggap apa? Mungkin aq terlalu "naif" terlalu berbaik sangka ke orang lain. Sedangkan orang lain belum tentu senang dengan kebahagiaan kita.
Dulu waktu jaman kuliah, ada orang yg cerita ttg barang mahal pemberian orang tua mereka, aq cuma komentar "gilee banget mahal ya num". thats all, tapi sekarang lebih complecated, well harus lebih menjaga omongan. Tidak harus dilihat orang lain bahwa kita ada, cukup aq, suami, anak dan keluarga ku yang merasakan bahwa semuanya cukup. Semua berjalan dengan baik, karena pada akhirnya "teman hanyalah teman". Inilah seninya berteman...
Semua ini pasti ada awalnya, berawal dari kesalahan ku sendiri. Yang kurang peka dan sensitif. Ga nyangka banget, ternyata orang-orang yang aq anggap dekat, bisa memberikan solusi. Hmmp (sambil menghela nafas).
Hikmahnya, sebenernya ga ada guna nya kita bercerita dengan teman sekalipun ttg permasalahan qt. Bener kata amel, keluhkan aja ke suami kita. Karena dia lah partner terbaik kita. Mungkin ada, teman yang bisa di ajak berbagi. Intinya, lebih memilah teman mana yang bisa di ajak berbagi. Seperti kata pras, kita lihat kondisi orang tersebut, dan qt harus tetep stay cool, n keep mouth lock dengan orang orang tertentu.
Intinya wen, ga perlu banyak omong.Santai aja, lebih baik bercerita dengan laptop yang tidak akan pernah protes, plus akan menjadi lucu ketika dibaca kembali.
Selasa, 18 September 2012
Bisa ga ya?
Pengen deh, bulan depan bisa pindahan dari depok ke lampung....Hanya saja adakah uangnya???
Belom lagi untuk biaya buat hordeng...Belum lagi biaya pengecatan ulang dan tukang yang sekarang kerja...
semoga bisa ya Allah...
Mana keinginan aq banyak banget, pengen beli baju, beli tas, jilbap, dompet, dll.
Belom lagi untuk biaya buat hordeng...Belum lagi biaya pengecatan ulang dan tukang yang sekarang kerja...
semoga bisa ya Allah...
Mana keinginan aq banyak banget, pengen beli baju, beli tas, jilbap, dompet, dll.
Rabu, 12 September 2012
Biaya Belajar Bangun Rumah
Serahkan kepada ahlinya....!!!!
Kemarin pada saat mencari tukang, memang agak terburu-buru, setelah menghubungi tukang yang bagus penuh sampai tahun depan, akhirnya diputuskan untuk memakai tukang yang seadanya, tapi diawasi dengan ketat.
SALAH BESAR!!!
Salah satu faktor ketidakberhasilan rumah ini adalah : "kondisi psikologis' aq yang labil. tidak bisa tiap hari ikut mengawasi proses jalan nya pembangunan rumah.
yang kedua memang saya ga tau harus mulai dari mana yg namanya mengawasi rumah.
Alhasil rumah saya berantakan, sangat berantakan padahal saya memakai material lumayan berkelas, meski masih kelas lokal.
Dulu, lokasi rumah saya 'kampung' sekarang sudah menjadi kota, sebenernya dulu juga kota, tapi karna yang tinggal menengah dan orang nya katro katro makanya masih kaya kampung. Sekarang sie ga katro lagi.
Rumah saya kacau balau, tidak simetris, rumah sama pembagian ruang nya berantakan, tidak kotak, tidak siku, jajaran genjang ga jelas. Ini semua akibat tukang TOLOL. Finishing tidak rapih, bahkan keran saja tidak pas letaknya.Tembok berantakan, se enaknya kerja. Kedepan kalo berusan dengan tukang, jangan segan segan marah,karna mereka bodoh. Semua harus fair dan professional.
Tips Membangun Rumah dengan Pengawasan Sendiri :
1. Minta bantuan arsitek untuk menggambar
2. Cari tukang yang berpengalaman dan bisa baca gambar. (disni dibutuhkan kesabaran tinggi, karena biasanya tukang yang bagus dan pengalaman antri nya panjang, bahkan sampai hitungan tahun. Hal ini ga masalah, buatlah janji dengan tukang tersebut, meski hitungan tahun antri nya) PENTING!!!!
3. Buat surat perjanjian termin, jika ada termin yang gagal, jangan ragu ragu untuk pecat tukang tersebut, putus kontrak saja.
misal begini:
1. Perapihan lahan
Hal ini penting sebelum mulai suatu pondasi, tukan yang tidak merapihkan lahan terlebih dahulu patut diragukan kredibilitasnya.Hal ini berhubungan dengan proses pembangunan pondasi. didalam pembuatan rumah tidak ada hal yang tidk penting. semuanya penting.Jangan ragu memecat tukang.jangan takut tidak enak.
2.Pondasi
Harus benar hitungan nya, harus siku. kalau dari awal pondasi salah, selanjutnya salah. Suruh tukang benar-benar ukur depan qt, bahwa semua sudah sesuai ukuran nya. Pada saat penentuan titik rumah, qt harus hadir.
3.Pembangunan rumah
4. Finishing
5. Pembersihan sampah
Yang harus benar-benar di ingat adalah proses penentuan titik awal, pondasi dan slop.itu yang penting.
Ketika rumah berdiri, yang penting adalah finishing yang apik.
Sudah cukup banyak belajar soal 'pembangunan rumah' dan pertukangan. Untuk ke depan harus lebih baik lagi, tidak boleh asal. Cari tukang terbaik.PENTING!!!
Biaya belajar bangun rumah kali ini adalah 300 juta. Jangan main-main dengan bangun rumah, karna kalau salah menyesalnya tidak selesai-selesai.
Kemarin pada saat mencari tukang, memang agak terburu-buru, setelah menghubungi tukang yang bagus penuh sampai tahun depan, akhirnya diputuskan untuk memakai tukang yang seadanya, tapi diawasi dengan ketat.
SALAH BESAR!!!
Salah satu faktor ketidakberhasilan rumah ini adalah : "kondisi psikologis' aq yang labil. tidak bisa tiap hari ikut mengawasi proses jalan nya pembangunan rumah.
yang kedua memang saya ga tau harus mulai dari mana yg namanya mengawasi rumah.
Alhasil rumah saya berantakan, sangat berantakan padahal saya memakai material lumayan berkelas, meski masih kelas lokal.
Dulu, lokasi rumah saya 'kampung' sekarang sudah menjadi kota, sebenernya dulu juga kota, tapi karna yang tinggal menengah dan orang nya katro katro makanya masih kaya kampung. Sekarang sie ga katro lagi.
Rumah saya kacau balau, tidak simetris, rumah sama pembagian ruang nya berantakan, tidak kotak, tidak siku, jajaran genjang ga jelas. Ini semua akibat tukang TOLOL. Finishing tidak rapih, bahkan keran saja tidak pas letaknya.Tembok berantakan, se enaknya kerja. Kedepan kalo berusan dengan tukang, jangan segan segan marah,karna mereka bodoh. Semua harus fair dan professional.
Tips Membangun Rumah dengan Pengawasan Sendiri :
1. Minta bantuan arsitek untuk menggambar
2. Cari tukang yang berpengalaman dan bisa baca gambar. (disni dibutuhkan kesabaran tinggi, karena biasanya tukang yang bagus dan pengalaman antri nya panjang, bahkan sampai hitungan tahun. Hal ini ga masalah, buatlah janji dengan tukang tersebut, meski hitungan tahun antri nya) PENTING!!!!
3. Buat surat perjanjian termin, jika ada termin yang gagal, jangan ragu ragu untuk pecat tukang tersebut, putus kontrak saja.
misal begini:
1. Perapihan lahan
Hal ini penting sebelum mulai suatu pondasi, tukan yang tidak merapihkan lahan terlebih dahulu patut diragukan kredibilitasnya.Hal ini berhubungan dengan proses pembangunan pondasi. didalam pembuatan rumah tidak ada hal yang tidk penting. semuanya penting.Jangan ragu memecat tukang.jangan takut tidak enak.
2.Pondasi
Harus benar hitungan nya, harus siku. kalau dari awal pondasi salah, selanjutnya salah. Suruh tukang benar-benar ukur depan qt, bahwa semua sudah sesuai ukuran nya. Pada saat penentuan titik rumah, qt harus hadir.
3.Pembangunan rumah
4. Finishing
5. Pembersihan sampah
Yang harus benar-benar di ingat adalah proses penentuan titik awal, pondasi dan slop.itu yang penting.
Ketika rumah berdiri, yang penting adalah finishing yang apik.
Sudah cukup banyak belajar soal 'pembangunan rumah' dan pertukangan. Untuk ke depan harus lebih baik lagi, tidak boleh asal. Cari tukang terbaik.PENTING!!!
Biaya belajar bangun rumah kali ini adalah 300 juta. Jangan main-main dengan bangun rumah, karna kalau salah menyesalnya tidak selesai-selesai.
Sabtu, 01 September 2012
Taubat istri...
Kesal karena sering dimarahi suami, ada saja yang membuat dia marah ke saya sampai saya merasa apakah dia tidak cinta saya lagi? tidak sayang? tidak bisa menghargai saya?
Sampai akhirnya saya tidak menuruti perintah dia untuk tidak meninggalkan rumah, tapi saya benar benar butuh udara segar, dan nekat pergi mengendarai sie scoopy dengan alasan ingin membayar tagihan aora tv ke kantor pos. selepas dari kantor pos saya mampir ke rumah teman saya, hanya sekedar mengobrol dan sedikit berkeluh kesah (kebiasaan perempuan). Setelah 2 jam suami saya telefon dan menannyakan keberadaan saya, dari nada bicara nya jelas dia marah. Sesampainya dirumah dia sudah siap dengan kunci mobil ditangannya, dan bilang mau ke jakarta sore itu juga. what???
Lebay banget saya rasa, cuma gara gara saya keluar, dia mempercepat rencananya untuk ke Jakarta yang semustinya dilakukannnya besok malam.Saya juga kekeuh ga mau mengaku salah, saya kesal semenjak perekonomian membaik, semenjak dia menjadi seorang ekspatriat, semenjak kami menjalani pernikahan dengan jarak jauh dan komunikasi hanya dilakukan via skype. setiap kami satu atap, selalu terjadi keributan mualai dari yang kecil sampai yang membuat hati jengah....dan setiap kali berantem saya "merasa" saya terus yang mengalah dan akhirnya minta maaf, saya benar benar kesaaaaaal. Dan tak peduli apa yang akan terjadi nanti, setelah saya cuek dengan kepergian nya...
Baru satu jam dia keluar rumah, sudah ada 'Ping!' di balckbery saya (suami yang kirim). Dalam hati saya sudah sangat GR, pasti dia mau minta maaf, ternyata saya salah. Suami ingin mengungkapkan kekesalannya kepada saya. Sampai dia bilang menyesal membuat rumah itu untuk saya, karna balesannya tidak sesuai. Saya tidak bisa menghargai Suami, tidak mau menuruti suami. Seharusnya sudah konsekuensi saya, kalo suami saya marah marah. Karna terkadang saat stress butuh orang untuk dijadikan pelampiasan kemarahan. Disisi lain, saya yang sering dimarahi hanya merasa kalau saya tidak dicintai lagi. :(
Meski pada akhirnya suami ngajak saya makan di luar (restoran seafood), saya pun mau (seafood gitu loh). Disana kemarahan berlanjut, habis habisan saya dimarahi (dalam hati saya tetap tidak terima). Kebetulan kamu mengajak serta anak kami yang baru satu, sie fatih. Awalnya fatih baik baik saja ceria, sampai dia mengjak saya ke arah keluar restoran tersebut. Ternyata dia mencari toilet, dia pengen pup, dia mengejan susah sekali sampi menangis (rupanya dia kebebelan, pupnya keras). Saya bawa ke toilet, setelah beberapa kali mengejan sambil menangis, sie pup keluar setengah (udah udah kata fatih sambil nangis), dikit lagi nak (akhirnya fatih mengejan beberapa kali lagi sampai akhirnya sie pup benar benar keluar), udah udah (sambil nangis). Saya fikir setelah lega pup keluar, beres nangisnya fatih. Rupanya tambah keras dia menangis, dia bilang 'tit" (sakit sambil menunjuk biji pelirnya yang sebelah kanan). saya raba penasaran kenapa dia bilang sakit, dan ternyata keras pada bagian tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk ke dokter anak, dan membungkus semua hidangan yang kami pesan. Ditengah perjalanan, kami merubah keputusan untuk tidak ke dokter anak tapi ke mbah urut langganan fatih. Alhamdulillah semua teratasi, sesampai nya dirumah fatih pup lagi dan tidak sakit.
Begitulah rumah tangga kami, sejak anak kami lahir setiap kami bertengkar fatih yang menjadi penyelamat kami. Akhirnya kami bersatu lagi setelah sesuatu yang buruk terjadi pada fatih.Dulu juga pernah kita berantem, tiba tiba fatih jatuh dari tempat tidur (padahal fatih masih bayi), akhirnya kami panik dan sedih bareng dan menjadi baikan. Sepertinya Allah menegur kami, dengan mengingatkan bahwa diantara kami ada Fatih, amanah yang harus kami jaga bersama. Astaghfirullah....
Sampai keesokan hari, perasaan saya masih belum plong dengan pertengkaran kami, saya merayu suami dengan menawarkan diri untuk membelikan nya 'nasi uduk bu sandi' yang sangat dia sukai. Pukul 6 saya langsung jalan untuk beli nasi uduk, kebetulan letaknya didepan rumah kerabat saya. Saya sedikit bercerita tentang permasalahan saya, dan nenek pun menasihati saya. Biar gimana suami itu orang terdekat kita, kalau kita sakit, sedih, yang paling terpukul itu suami. dia harus cari uang lebih untuk biaya pengobatan kita, menjaga kita ketika sakit. Saudara, tetangga, sahabat hanya bisa melihat. Pun sebaliknya, kita (istri) adalah oarang terdekat suami....(meski masalahnya bukan karna mendengarkan orang lain, tapi karna saya kesal sering dimarahi) nasihat itu cukup untuk membuat saya menerung dan berfikir akan permasalahan rumah tangga saya.
Suami memang merencanakan keberangkatan nya ke Jakarta siang nanti, kami pun sudah baikan. Malamnya, tante saya datang berkunjung. beliau cerita tentang rekan kerjanya yang mau mengundurkan diri, karna dimarahi oleh bos nya. Saya jadi berfikir bahkan karyawan bergaji minim dimarahi oleh bos nya?. Kenapa saya sombong sekali, angkuh tidak mau bersabar terhadap kemarahan suami (meski terkadang suami marah marah ga jelas)? Saya bukan karyawan bergaji minim, saya adalah istri dari suami saya yang baru hampir 4 tahun kami menikah, saya sudah dibuatkan rumah sesuai dengan keinginan saya, saya sudah bisa membawa mobil 'new yaris groovia', dan saya pun sudah mendapatkan anak bersamanya.
Astaghfirullah...lambat sekali saya sadar, bahwasanya suami hanya ingin didengar, ditaati bahkan ketika dia marah tanpa sebab tetap ingin dihargai oleh saya istrinya. Sejak malam itu saya berjanji didalam hati saya, untuk senantiasa memupuk kesabaran saya dalam rangka taat saya kepada suami. Bukankah suami ladang amal saya? kenapa selama ini saya terbawa emosi dan melupakan bahwa rumah tangga saya ini adalah ladang amal buat saya.
Ini ada kutipan yang saya ambil dari "Kompasiana" :
Tidakan isteri meninggalkan suami ini sering dianggap ringan atau sepele oleh sebagian wanita yang tidak mengerti hukum islam tapi jika tindakan ini dilakukan terhadap seorang pria muslim yang paham hukum agama akan sangat fatal dan berat akibatnya karena agama Islam melarang dengan keras hal tersebut.
Istri yang pergi dari rumah, meninggalkan suami menginap di tempat lain dan meninggalkan suaminya dalam keadaan marah sedangkan suami tidak ridho apapun alasannya, bagi wanita yang mengerti hukuman Allah sangat berat pasti akan sangat menyesal dan tidak akan pernah berani satu kalipun melakukannya karena jika seorang Isteri pergi meninggalkan rumah dan suaminya artinya :
1. Isteri tersebut bukan seorang wanita yang baik
Isteri meninggalkan suami atau pergi tanpa izin suami bukanlah termasuk golongan wanita yang baik karena isteri yang baik akan menghormati pemimpinnya (suaminya). Pemimpin rumah tangga dalam Islam adalah suami bukan Isteri karena karena Suami mempunyai kedudukan setingkat lebih tinggi dari isterinya. dan yang paling penting adalah suami telah memberi makan maupun tempat tinggal bagi isterinya jadi sudah sewajarnya jika isteri berkewajiban untuk taat pada suaminya selama suami menyuruh dalam kebaikan (bukan kemaksiatan) Firman Allah dalam surat An Nisa’ ayat 34 dan Al Baqoroh ayat 228:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka Wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa 34)
2. Isteri meninggalkan rumah tanpa izin suami akan dilaknat oleh Allah dan dimarahi oleh para malaikat
Sabda Rasullulah SAW :
”Hak suami terhadap isterinya adalah isteri tidak menghalangi permintaan suaminya sekalipun semasa berada di atas punggung unta , tidak berpuasa walaupun sehari kecuali dengan izinnya, kecuali puasa wajib. Jika dia tetap berbuat demikian, dia berdosa dan tidak diterima puasanya. Dia tidak boleh memberi, maka pahalanya terhadap suaminya dan dosanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika dia berbuat demikian, maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya kembali , sekalipun suaminya itu adalah orang yang alim.” (Hadist riwayat Abu Daud Ath-Thayalisi daripada Abdullah Umar)
3. Isteri meninggalkan suami sama saja dengan menjerumuskan dirinya sendiri ke neraka karena suami berperan apakah isterinya layak masuk surga atau neraka
Isteri pergi meninggalkan suami artinya dia tidak taat kepada suaminya padahal jika seorang isteri tahu bahwa taat pada suami bisa mengantar dia ke surga pastilah dia akan menyesal melakukan hal itu sesuai dengan hadist Rasullullah SAW :
Dari Husain bin Muhshain dari bibinya berkata: “Saya datang menemui Rasulullah SAW. Beliau lalu bertanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” Saya menjawab: “Ya”. Rasulullah SAW bertanya kembali: “Apa yang kamu lakukan terhadapnya?” Saya menjawab: “Saya tidak begitu mempedulikannya, kecuali untuk hal-hal yang memang saya membutuhkannya” . Rasulullah SAW bersabda kembali: “Bagaimana kamu dapat berbuat seperti itu, sementara suami kamu itu adalah yang menentukan kamu masuk ke surga atau ke neraka” (HR. Imam Nasai, Hakim, Ahmad dengan Hadis Hasan)
4. Memusuhi suami sama saja dengan memusuhi Allah
Seorang isteri yang meninggalkan suami dan memusuhi suaminya padahal suami baik pada isterinya. Sangatlah tidak mungkin masuk surga karena Bagaimana mungkin seorang isteri berharap masuk surga jika Allah memusuhinya. Bahkan jika sampai suami terluka hati / fisiknya maka Allah dan Rasullullah SAW akan memisahkan diri dari isteri tersebut. Hal ini dijelaskan dalam Hadist Rasullullah SAW :
“Tidaklah istri menyakiti suami di dunia kecuali ia bicara pada suami dengan mata yang berbinar, janganlah sakiti dia (suami), agar Allah tidak memusuhimu, jika suamimu terluka maka dia akan segera memisahkanmu kepada Kami (Allah dan Rasul)”. HR. Tirmidzi dari Muadz bin Jabal.
5. Isteri meninggalkan suami tidak ada nafkah baginya dan layak mendapat azab
Seorang Ulama dan pemikir Islam yang sangat terkenal akan kecerdasannya dan sangat dikagumi oleh para ulama pada waktu itu, penghafal Quran dan Ribuan Hadist, ahli Tafsir dan Fiqh dari Harran, Turki yaitu Ibnu Taimiyah sampai berkata: “Jika isteri keluar rumah suami tanpa seijinnya maka tidak ada hak nafkah dan pakaian”. Tidak dihalalkan bagi isteri untuk keluar dari rumah suaminya kecuali dengan ijinnya (suami),Dan apabila ia keluar dari rumah suaminya tanpa seijinnya maka ia telah berbuat nusyuz (durhaka) bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan ia layak mendapat adzab.”
6. Taat kepada suami pahalanya seperti Jihad di jalan Allah
Jika seorang isteri taat kepada suaminya serta tidak pergi meninggalkan suami maka pahalanya sama dengan jihad di jalan Allah. Perhatikan hadist berikut: Al- Bazzar dan At Thabrani meriwayatkan bahwa seorang wanita pernah datang kepada Rasullullah SAW lalu berkata : “ Aku adalah utusan para wanita kepada engkau untuk menanyakan : Jihad ini telah diwajibkan Allah kepada kaum lelaki, Jika menang mereka diberi pahala dan jika terbunuh mereka tetap diberi rezeki oleh Rabb mereka, tetapi kami kaum wanita yang membantu mereka , pahala apa yang kami dapatkan? Nabi SAW menjawab :” Sampaikan kepada wanita yang engkau jumpai bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya itu adalah sama dengan pahala jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melakukanya.
Jadi akan sangat tidak mungkin bagi seorang isteri yang mengaku mengerti hukum agama Islam tapi pergi meninggalkan tanggung jawab sebagai isteri meninggalkan suaminya dari rumah.
Wallahualam, saya memang cuma mengutip dari kompasiana tulisan dari mba Dini D Wardhani, saya juga tidak mericek kebenaran hadist riwayat ini, semoga bisa memberikan kemanfaatan bagi kita semua.
terutama jika anak-anak ku membaca nantinya...
Ya Allah berikanlah kesabara dan cahaya Ilmu bagi kami sekeluarga....
Aamiiin....
Love u my Husband, Love u my son...^^
Sampai akhirnya saya tidak menuruti perintah dia untuk tidak meninggalkan rumah, tapi saya benar benar butuh udara segar, dan nekat pergi mengendarai sie scoopy dengan alasan ingin membayar tagihan aora tv ke kantor pos. selepas dari kantor pos saya mampir ke rumah teman saya, hanya sekedar mengobrol dan sedikit berkeluh kesah (kebiasaan perempuan). Setelah 2 jam suami saya telefon dan menannyakan keberadaan saya, dari nada bicara nya jelas dia marah. Sesampainya dirumah dia sudah siap dengan kunci mobil ditangannya, dan bilang mau ke jakarta sore itu juga. what???
Lebay banget saya rasa, cuma gara gara saya keluar, dia mempercepat rencananya untuk ke Jakarta yang semustinya dilakukannnya besok malam.Saya juga kekeuh ga mau mengaku salah, saya kesal semenjak perekonomian membaik, semenjak dia menjadi seorang ekspatriat, semenjak kami menjalani pernikahan dengan jarak jauh dan komunikasi hanya dilakukan via skype. setiap kami satu atap, selalu terjadi keributan mualai dari yang kecil sampai yang membuat hati jengah....dan setiap kali berantem saya "merasa" saya terus yang mengalah dan akhirnya minta maaf, saya benar benar kesaaaaaal. Dan tak peduli apa yang akan terjadi nanti, setelah saya cuek dengan kepergian nya...
Baru satu jam dia keluar rumah, sudah ada 'Ping!' di balckbery saya (suami yang kirim). Dalam hati saya sudah sangat GR, pasti dia mau minta maaf, ternyata saya salah. Suami ingin mengungkapkan kekesalannya kepada saya. Sampai dia bilang menyesal membuat rumah itu untuk saya, karna balesannya tidak sesuai. Saya tidak bisa menghargai Suami, tidak mau menuruti suami. Seharusnya sudah konsekuensi saya, kalo suami saya marah marah. Karna terkadang saat stress butuh orang untuk dijadikan pelampiasan kemarahan. Disisi lain, saya yang sering dimarahi hanya merasa kalau saya tidak dicintai lagi. :(
Meski pada akhirnya suami ngajak saya makan di luar (restoran seafood), saya pun mau (seafood gitu loh). Disana kemarahan berlanjut, habis habisan saya dimarahi (dalam hati saya tetap tidak terima). Kebetulan kamu mengajak serta anak kami yang baru satu, sie fatih. Awalnya fatih baik baik saja ceria, sampai dia mengjak saya ke arah keluar restoran tersebut. Ternyata dia mencari toilet, dia pengen pup, dia mengejan susah sekali sampi menangis (rupanya dia kebebelan, pupnya keras). Saya bawa ke toilet, setelah beberapa kali mengejan sambil menangis, sie pup keluar setengah (udah udah kata fatih sambil nangis), dikit lagi nak (akhirnya fatih mengejan beberapa kali lagi sampai akhirnya sie pup benar benar keluar), udah udah (sambil nangis). Saya fikir setelah lega pup keluar, beres nangisnya fatih. Rupanya tambah keras dia menangis, dia bilang 'tit" (sakit sambil menunjuk biji pelirnya yang sebelah kanan). saya raba penasaran kenapa dia bilang sakit, dan ternyata keras pada bagian tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk ke dokter anak, dan membungkus semua hidangan yang kami pesan. Ditengah perjalanan, kami merubah keputusan untuk tidak ke dokter anak tapi ke mbah urut langganan fatih. Alhamdulillah semua teratasi, sesampai nya dirumah fatih pup lagi dan tidak sakit.
Begitulah rumah tangga kami, sejak anak kami lahir setiap kami bertengkar fatih yang menjadi penyelamat kami. Akhirnya kami bersatu lagi setelah sesuatu yang buruk terjadi pada fatih.Dulu juga pernah kita berantem, tiba tiba fatih jatuh dari tempat tidur (padahal fatih masih bayi), akhirnya kami panik dan sedih bareng dan menjadi baikan. Sepertinya Allah menegur kami, dengan mengingatkan bahwa diantara kami ada Fatih, amanah yang harus kami jaga bersama. Astaghfirullah....
Sampai keesokan hari, perasaan saya masih belum plong dengan pertengkaran kami, saya merayu suami dengan menawarkan diri untuk membelikan nya 'nasi uduk bu sandi' yang sangat dia sukai. Pukul 6 saya langsung jalan untuk beli nasi uduk, kebetulan letaknya didepan rumah kerabat saya. Saya sedikit bercerita tentang permasalahan saya, dan nenek pun menasihati saya. Biar gimana suami itu orang terdekat kita, kalau kita sakit, sedih, yang paling terpukul itu suami. dia harus cari uang lebih untuk biaya pengobatan kita, menjaga kita ketika sakit. Saudara, tetangga, sahabat hanya bisa melihat. Pun sebaliknya, kita (istri) adalah oarang terdekat suami....(meski masalahnya bukan karna mendengarkan orang lain, tapi karna saya kesal sering dimarahi) nasihat itu cukup untuk membuat saya menerung dan berfikir akan permasalahan rumah tangga saya.
Suami memang merencanakan keberangkatan nya ke Jakarta siang nanti, kami pun sudah baikan. Malamnya, tante saya datang berkunjung. beliau cerita tentang rekan kerjanya yang mau mengundurkan diri, karna dimarahi oleh bos nya. Saya jadi berfikir bahkan karyawan bergaji minim dimarahi oleh bos nya?. Kenapa saya sombong sekali, angkuh tidak mau bersabar terhadap kemarahan suami (meski terkadang suami marah marah ga jelas)? Saya bukan karyawan bergaji minim, saya adalah istri dari suami saya yang baru hampir 4 tahun kami menikah, saya sudah dibuatkan rumah sesuai dengan keinginan saya, saya sudah bisa membawa mobil 'new yaris groovia', dan saya pun sudah mendapatkan anak bersamanya.
Astaghfirullah...lambat sekali saya sadar, bahwasanya suami hanya ingin didengar, ditaati bahkan ketika dia marah tanpa sebab tetap ingin dihargai oleh saya istrinya. Sejak malam itu saya berjanji didalam hati saya, untuk senantiasa memupuk kesabaran saya dalam rangka taat saya kepada suami. Bukankah suami ladang amal saya? kenapa selama ini saya terbawa emosi dan melupakan bahwa rumah tangga saya ini adalah ladang amal buat saya.
Ini ada kutipan yang saya ambil dari "Kompasiana" :
Tidakan isteri meninggalkan suami ini sering dianggap ringan atau sepele oleh sebagian wanita yang tidak mengerti hukum islam tapi jika tindakan ini dilakukan terhadap seorang pria muslim yang paham hukum agama akan sangat fatal dan berat akibatnya karena agama Islam melarang dengan keras hal tersebut.
Istri yang pergi dari rumah, meninggalkan suami menginap di tempat lain dan meninggalkan suaminya dalam keadaan marah sedangkan suami tidak ridho apapun alasannya, bagi wanita yang mengerti hukuman Allah sangat berat pasti akan sangat menyesal dan tidak akan pernah berani satu kalipun melakukannya karena jika seorang Isteri pergi meninggalkan rumah dan suaminya artinya :
1. Isteri tersebut bukan seorang wanita yang baik
Isteri meninggalkan suami atau pergi tanpa izin suami bukanlah termasuk golongan wanita yang baik karena isteri yang baik akan menghormati pemimpinnya (suaminya). Pemimpin rumah tangga dalam Islam adalah suami bukan Isteri karena karena Suami mempunyai kedudukan setingkat lebih tinggi dari isterinya. dan yang paling penting adalah suami telah memberi makan maupun tempat tinggal bagi isterinya jadi sudah sewajarnya jika isteri berkewajiban untuk taat pada suaminya selama suami menyuruh dalam kebaikan (bukan kemaksiatan) Firman Allah dalam surat An Nisa’ ayat 34 dan Al Baqoroh ayat 228:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka Wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa 34)
2. Isteri meninggalkan rumah tanpa izin suami akan dilaknat oleh Allah dan dimarahi oleh para malaikat
Sabda Rasullulah SAW :
”Hak suami terhadap isterinya adalah isteri tidak menghalangi permintaan suaminya sekalipun semasa berada di atas punggung unta , tidak berpuasa walaupun sehari kecuali dengan izinnya, kecuali puasa wajib. Jika dia tetap berbuat demikian, dia berdosa dan tidak diterima puasanya. Dia tidak boleh memberi, maka pahalanya terhadap suaminya dan dosanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika dia berbuat demikian, maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya kembali , sekalipun suaminya itu adalah orang yang alim.” (Hadist riwayat Abu Daud Ath-Thayalisi daripada Abdullah Umar)
3. Isteri meninggalkan suami sama saja dengan menjerumuskan dirinya sendiri ke neraka karena suami berperan apakah isterinya layak masuk surga atau neraka
Isteri pergi meninggalkan suami artinya dia tidak taat kepada suaminya padahal jika seorang isteri tahu bahwa taat pada suami bisa mengantar dia ke surga pastilah dia akan menyesal melakukan hal itu sesuai dengan hadist Rasullullah SAW :
Dari Husain bin Muhshain dari bibinya berkata: “Saya datang menemui Rasulullah SAW. Beliau lalu bertanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” Saya menjawab: “Ya”. Rasulullah SAW bertanya kembali: “Apa yang kamu lakukan terhadapnya?” Saya menjawab: “Saya tidak begitu mempedulikannya, kecuali untuk hal-hal yang memang saya membutuhkannya” . Rasulullah SAW bersabda kembali: “Bagaimana kamu dapat berbuat seperti itu, sementara suami kamu itu adalah yang menentukan kamu masuk ke surga atau ke neraka” (HR. Imam Nasai, Hakim, Ahmad dengan Hadis Hasan)
4. Memusuhi suami sama saja dengan memusuhi Allah
Seorang isteri yang meninggalkan suami dan memusuhi suaminya padahal suami baik pada isterinya. Sangatlah tidak mungkin masuk surga karena Bagaimana mungkin seorang isteri berharap masuk surga jika Allah memusuhinya. Bahkan jika sampai suami terluka hati / fisiknya maka Allah dan Rasullullah SAW akan memisahkan diri dari isteri tersebut. Hal ini dijelaskan dalam Hadist Rasullullah SAW :
“Tidaklah istri menyakiti suami di dunia kecuali ia bicara pada suami dengan mata yang berbinar, janganlah sakiti dia (suami), agar Allah tidak memusuhimu, jika suamimu terluka maka dia akan segera memisahkanmu kepada Kami (Allah dan Rasul)”. HR. Tirmidzi dari Muadz bin Jabal.
5. Isteri meninggalkan suami tidak ada nafkah baginya dan layak mendapat azab
Seorang Ulama dan pemikir Islam yang sangat terkenal akan kecerdasannya dan sangat dikagumi oleh para ulama pada waktu itu, penghafal Quran dan Ribuan Hadist, ahli Tafsir dan Fiqh dari Harran, Turki yaitu Ibnu Taimiyah sampai berkata: “Jika isteri keluar rumah suami tanpa seijinnya maka tidak ada hak nafkah dan pakaian”. Tidak dihalalkan bagi isteri untuk keluar dari rumah suaminya kecuali dengan ijinnya (suami),Dan apabila ia keluar dari rumah suaminya tanpa seijinnya maka ia telah berbuat nusyuz (durhaka) bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan ia layak mendapat adzab.”
6. Taat kepada suami pahalanya seperti Jihad di jalan Allah
Jika seorang isteri taat kepada suaminya serta tidak pergi meninggalkan suami maka pahalanya sama dengan jihad di jalan Allah. Perhatikan hadist berikut: Al- Bazzar dan At Thabrani meriwayatkan bahwa seorang wanita pernah datang kepada Rasullullah SAW lalu berkata : “ Aku adalah utusan para wanita kepada engkau untuk menanyakan : Jihad ini telah diwajibkan Allah kepada kaum lelaki, Jika menang mereka diberi pahala dan jika terbunuh mereka tetap diberi rezeki oleh Rabb mereka, tetapi kami kaum wanita yang membantu mereka , pahala apa yang kami dapatkan? Nabi SAW menjawab :” Sampaikan kepada wanita yang engkau jumpai bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya itu adalah sama dengan pahala jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melakukanya.
Jadi akan sangat tidak mungkin bagi seorang isteri yang mengaku mengerti hukum agama Islam tapi pergi meninggalkan tanggung jawab sebagai isteri meninggalkan suaminya dari rumah.
Wallahualam, saya memang cuma mengutip dari kompasiana tulisan dari mba Dini D Wardhani, saya juga tidak mericek kebenaran hadist riwayat ini, semoga bisa memberikan kemanfaatan bagi kita semua.
terutama jika anak-anak ku membaca nantinya...
Ya Allah berikanlah kesabara dan cahaya Ilmu bagi kami sekeluarga....
Aamiiin....
Love u my Husband, Love u my son...^^
Minggu, 09 Oktober 2011
fatih ga takut lagi
karena terbiasa tinggal didepok yang jauh dari sanak saudara, fatih agak susah jika bertemu dengan orang baru. terlebih ketika fatih diboyong ayahnya ke thailand, disana hanya bertiga saja ;ayah, bunda n fatih.
kebetulan pas mudik lebaran, fatih dan aq tinggal agak lama dilampung, sempet terfikir untuk menyekolahkan fatih di 'taman bermain', tapi umur fatih baru aja 1,5 tahun. akhirnya aq rajin aja ajak fatih silaturahim ke temen2 yang punya anak sebaya fatih. pertamanya fatih takut kalo ada baby lain(mungkin dia anggap sebagai saingannya), kalo bertemu laki2 dewasa takut (pasti nangis padahal cuma ditegur doank).
lama kelamaan fatih bisa bersosialisasi dengan baby seusia-nya, n ga takut dengan bapak2 yang coba tegur dia...
alhamdulillah...ternyata fatih hanya butuh pengkondisiian, bukannya pemalu...^^
kemarin ada acara pernikahan sepupu, n fatih bisa bermain dengan PD nya kesana kemari tanpa takut dengan kehadiran orang lain di sekitarnya...
kebetulan pas mudik lebaran, fatih dan aq tinggal agak lama dilampung, sempet terfikir untuk menyekolahkan fatih di 'taman bermain', tapi umur fatih baru aja 1,5 tahun. akhirnya aq rajin aja ajak fatih silaturahim ke temen2 yang punya anak sebaya fatih. pertamanya fatih takut kalo ada baby lain(mungkin dia anggap sebagai saingannya), kalo bertemu laki2 dewasa takut (pasti nangis padahal cuma ditegur doank).
lama kelamaan fatih bisa bersosialisasi dengan baby seusia-nya, n ga takut dengan bapak2 yang coba tegur dia...
alhamdulillah...ternyata fatih hanya butuh pengkondisiian, bukannya pemalu...^^
kemarin ada acara pernikahan sepupu, n fatih bisa bermain dengan PD nya kesana kemari tanpa takut dengan kehadiran orang lain di sekitarnya...
Langganan:
Postingan (Atom)