Kesal karena sering dimarahi suami, ada saja yang membuat dia marah ke saya sampai saya merasa apakah dia tidak cinta saya lagi? tidak sayang? tidak bisa menghargai saya?
Sampai akhirnya saya tidak menuruti perintah dia untuk tidak meninggalkan rumah, tapi saya benar benar butuh udara segar, dan nekat pergi mengendarai sie scoopy dengan alasan ingin membayar tagihan aora tv ke kantor pos. selepas dari kantor pos saya mampir ke rumah teman saya, hanya sekedar mengobrol dan sedikit berkeluh kesah (kebiasaan perempuan). Setelah 2 jam suami saya telefon dan menannyakan keberadaan saya, dari nada bicara nya jelas dia marah. Sesampainya dirumah dia sudah siap dengan kunci mobil ditangannya, dan bilang mau ke jakarta sore itu juga. what???
Lebay banget saya rasa, cuma gara gara saya keluar, dia mempercepat rencananya untuk ke Jakarta yang semustinya dilakukannnya besok malam.Saya juga kekeuh ga mau mengaku salah, saya kesal semenjak perekonomian membaik, semenjak dia menjadi seorang ekspatriat, semenjak kami menjalani pernikahan dengan jarak jauh dan komunikasi hanya dilakukan via skype. setiap kami satu atap, selalu terjadi keributan mualai dari yang kecil sampai yang membuat hati jengah....dan setiap kali berantem saya "merasa" saya terus yang mengalah dan akhirnya minta maaf, saya benar benar kesaaaaaal. Dan tak peduli apa yang akan terjadi nanti, setelah saya cuek dengan kepergian nya...
Baru satu jam dia keluar rumah, sudah ada 'Ping!' di balckbery saya (suami yang kirim). Dalam hati saya sudah sangat GR, pasti dia mau minta maaf, ternyata saya salah. Suami ingin mengungkapkan kekesalannya kepada saya. Sampai dia bilang menyesal membuat rumah itu untuk saya, karna balesannya tidak sesuai. Saya tidak bisa menghargai Suami, tidak mau menuruti suami. Seharusnya sudah konsekuensi saya, kalo suami saya marah marah. Karna terkadang saat stress butuh orang untuk dijadikan pelampiasan kemarahan. Disisi lain, saya yang sering dimarahi hanya merasa kalau saya tidak dicintai lagi. :(
Meski pada akhirnya suami ngajak saya makan di luar (restoran seafood), saya pun mau (seafood gitu loh). Disana kemarahan berlanjut, habis habisan saya dimarahi (dalam hati saya tetap tidak terima). Kebetulan kamu mengajak serta anak kami yang baru satu, sie fatih. Awalnya fatih baik baik saja ceria, sampai dia mengjak saya ke arah keluar restoran tersebut. Ternyata dia mencari toilet, dia pengen pup, dia mengejan susah sekali sampi menangis (rupanya dia kebebelan, pupnya keras). Saya bawa ke toilet, setelah beberapa kali mengejan sambil menangis, sie pup keluar setengah (udah udah kata fatih sambil nangis), dikit lagi nak (akhirnya fatih mengejan beberapa kali lagi sampai akhirnya sie pup benar benar keluar), udah udah (sambil nangis). Saya fikir setelah lega pup keluar, beres nangisnya fatih. Rupanya tambah keras dia menangis, dia bilang 'tit" (sakit sambil menunjuk biji pelirnya yang sebelah kanan). saya raba penasaran kenapa dia bilang sakit, dan ternyata keras pada bagian tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk ke dokter anak, dan membungkus semua hidangan yang kami pesan. Ditengah perjalanan, kami merubah keputusan untuk tidak ke dokter anak tapi ke mbah urut langganan fatih. Alhamdulillah semua teratasi, sesampai nya dirumah fatih pup lagi dan tidak sakit.
Begitulah rumah tangga kami, sejak anak kami lahir setiap kami bertengkar fatih yang menjadi penyelamat kami. Akhirnya kami bersatu lagi setelah sesuatu yang buruk terjadi pada fatih.Dulu juga pernah kita berantem, tiba tiba fatih jatuh dari tempat tidur (padahal fatih masih bayi), akhirnya kami panik dan sedih bareng dan menjadi baikan. Sepertinya Allah menegur kami, dengan mengingatkan bahwa diantara kami ada Fatih, amanah yang harus kami jaga bersama. Astaghfirullah....
Sampai keesokan hari, perasaan saya masih belum plong dengan pertengkaran kami, saya merayu suami dengan menawarkan diri untuk membelikan nya 'nasi uduk bu sandi' yang sangat dia sukai. Pukul 6 saya langsung jalan untuk beli nasi uduk, kebetulan letaknya didepan rumah kerabat saya. Saya sedikit bercerita tentang permasalahan saya, dan nenek pun menasihati saya. Biar gimana suami itu orang terdekat kita, kalau kita sakit, sedih, yang paling terpukul itu suami. dia harus cari uang lebih untuk biaya pengobatan kita, menjaga kita ketika sakit. Saudara, tetangga, sahabat hanya bisa melihat. Pun sebaliknya, kita (istri) adalah oarang terdekat suami....(meski masalahnya bukan karna mendengarkan orang lain, tapi karna saya kesal sering dimarahi) nasihat itu cukup untuk membuat saya menerung dan berfikir akan permasalahan rumah tangga saya.
Suami memang merencanakan keberangkatan nya ke Jakarta siang nanti, kami pun sudah baikan. Malamnya, tante saya datang berkunjung. beliau cerita tentang rekan kerjanya yang mau mengundurkan diri, karna dimarahi oleh bos nya. Saya jadi berfikir bahkan karyawan bergaji minim dimarahi oleh bos nya?. Kenapa saya sombong sekali, angkuh tidak mau bersabar terhadap kemarahan suami (meski terkadang suami marah marah ga jelas)? Saya bukan karyawan bergaji minim, saya adalah istri dari suami saya yang baru hampir 4 tahun kami menikah, saya sudah dibuatkan rumah sesuai dengan keinginan saya, saya sudah bisa membawa mobil 'new yaris groovia', dan saya pun sudah mendapatkan anak bersamanya.
Astaghfirullah...lambat sekali saya sadar, bahwasanya suami hanya ingin didengar, ditaati bahkan ketika dia marah tanpa sebab tetap ingin dihargai oleh saya istrinya. Sejak malam itu saya berjanji didalam hati saya, untuk senantiasa memupuk kesabaran saya dalam rangka taat saya kepada suami. Bukankah suami ladang amal saya? kenapa selama ini saya terbawa emosi dan melupakan bahwa rumah tangga saya ini adalah ladang amal buat saya.
Ini ada kutipan yang saya ambil dari "Kompasiana" :
Tidakan isteri meninggalkan suami ini sering dianggap ringan atau sepele
oleh sebagian wanita yang tidak mengerti hukum islam tapi jika tindakan
ini dilakukan terhadap seorang pria muslim yang paham hukum agama akan
sangat fatal dan berat akibatnya karena agama Islam melarang dengan
keras hal tersebut.
Istri yang pergi dari rumah, meninggalkan suami menginap di tempat lain
dan meninggalkan suaminya dalam keadaan marah sedangkan suami tidak
ridho apapun alasannya, bagi wanita yang mengerti hukuman Allah sangat
berat pasti akan sangat menyesal dan tidak akan pernah berani satu
kalipun melakukannya karena jika seorang Isteri pergi meninggalkan rumah
dan suaminya artinya :
1. Isteri tersebut bukan seorang wanita yang baik
Isteri meninggalkan suami atau pergi tanpa izin suami bukanlah termasuk
golongan wanita yang baik karena isteri yang baik akan menghormati
pemimpinnya (suaminya). Pemimpin rumah tangga dalam Islam adalah suami
bukan Isteri karena karena Suami mempunyai kedudukan setingkat lebih
tinggi dari isterinya. dan yang paling penting adalah suami telah
memberi makan maupun tempat tinggal bagi isterinya jadi sudah sewajarnya
jika isteri berkewajiban untuk taat pada suaminya selama suami menyuruh
dalam kebaikan (bukan kemaksiatan) Firman Allah dalam surat An Nisa’
ayat 34 dan Al Baqoroh ayat 228:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang
lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian
dari harta mereka. Sebab itu maka Wanita yang saleh, ialah yang taat
kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena
Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan
nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika
mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa 34)
2. Isteri meninggalkan rumah tanpa izin suami akan dilaknat oleh Allah dan dimarahi oleh para malaikat
Sabda Rasullulah SAW :
”Hak suami terhadap isterinya adalah isteri
tidak menghalangi permintaan suaminya sekalipun semasa berada di atas
punggung unta , tidak berpuasa walaupun sehari kecuali dengan izinnya,
kecuali puasa wajib. Jika
dia tetap berbuat demikian, dia berdosa dan tidak diterima puasanya. Dia
tidak boleh memberi, maka pahalanya terhadap suaminya dan dosanya untuk
dirinya sendiri. Dia tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika dia berbuat demikian, maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya kembali , sekalipun suaminya itu adalah orang yang alim.” (Hadist riwayat Abu Daud Ath-Thayalisi daripada Abdullah Umar)
3. Isteri meninggalkan suami sama saja dengan menjerumuskan
dirinya sendiri ke neraka karena suami berperan apakah isterinya layak
masuk surga atau neraka
Isteri pergi meninggalkan suami artinya dia tidak taat kepada suaminya
padahal jika seorang isteri tahu bahwa taat pada suami bisa mengantar
dia ke surga pastilah dia akan menyesal melakukan hal itu sesuai dengan
hadist Rasullullah SAW :
Dari Husain bin Muhshain dari bibinya berkata: “Saya datang
menemui Rasulullah SAW. Beliau lalu bertanya: “Apakah kamu mempunyai
suami?” Saya menjawab: “Ya”. Rasulullah SAW bertanya kembali: “Apa yang
kamu lakukan terhadapnya?” Saya menjawab: “Saya tidak begitu
mempedulikannya, kecuali untuk hal-hal yang memang saya membutuhkannya” .
Rasulullah SAW bersabda kembali: “Bagaimana kamu dapat berbuat seperti
itu, sementara suami kamu itu adalah yang menentukan kamu masuk ke surga
atau ke neraka” (HR. Imam Nasai, Hakim, Ahmad dengan Hadis Hasan)
4. Memusuhi suami sama saja dengan memusuhi Allah
Seorang isteri yang meninggalkan suami dan memusuhi suaminya padahal
suami baik pada isterinya. Sangatlah tidak mungkin masuk surga karena
Bagaimana mungkin seorang isteri berharap masuk surga jika Allah
memusuhinya. Bahkan jika sampai suami terluka hati / fisiknya maka Allah
dan Rasullullah SAW akan memisahkan diri dari isteri tersebut. Hal ini dijelaskan dalam Hadist Rasullullah SAW :
“Tidaklah istri menyakiti suami di dunia kecuali ia bicara pada
suami dengan mata yang berbinar, janganlah sakiti dia (suami), agar
Allah tidak memusuhimu, jika suamimu terluka maka dia akan segera
memisahkanmu kepada Kami (Allah dan Rasul)”. HR. Tirmidzi dari Muadz bin Jabal.
5. Isteri meninggalkan suami tidak ada nafkah baginya dan layak mendapat azab
Seorang Ulama dan pemikir Islam yang sangat terkenal akan kecerdasannya
dan sangat dikagumi oleh para ulama pada waktu itu, penghafal Quran dan
Ribuan Hadist, ahli Tafsir dan Fiqh dari Harran, Turki yaitu Ibnu Taimiyah sampai berkata: “Jika isteri keluar rumah suami tanpa seijinnya maka tidak ada hak nafkah dan pakaian”. Tidak
dihalalkan bagi isteri untuk keluar dari rumah suaminya kecuali dengan
ijinnya (suami),Dan apabila ia keluar dari rumah suaminya tanpa
seijinnya maka ia telah berbuat nusyuz (durhaka) bermaksiat kepada Allah
dan Rasul-Nya dan ia layak mendapat adzab.”
6. Taat kepada suami pahalanya seperti Jihad di jalan Allah
Jika seorang isteri taat kepada suaminya serta tidak pergi meninggalkan
suami maka pahalanya sama dengan jihad di jalan Allah. Perhatikan hadist
berikut: Al- Bazzar dan At Thabrani meriwayatkan bahwa seorang wanita pernah datang kepada Rasullullah SAW lalu berkata : “
Aku adalah utusan para wanita kepada engkau untuk menanyakan : Jihad
ini telah diwajibkan Allah kepada kaum lelaki, Jika menang mereka diberi
pahala dan jika terbunuh mereka tetap diberi rezeki oleh Rabb mereka,
tetapi kami kaum wanita yang membantu mereka , pahala apa yang kami
dapatkan? Nabi SAW menjawab :” Sampaikan kepada wanita yang engkau
jumpai bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya itu adalah sama dengan pahala jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melakukanya.
Jadi akan sangat tidak mungkin bagi seorang isteri yang mengaku mengerti
hukum agama Islam tapi pergi meninggalkan tanggung jawab sebagai isteri
meninggalkan suaminya dari rumah.
Wallahualam, saya memang cuma mengutip dari kompasiana tulisan dari mba Dini D Wardhani, saya juga tidak mericek kebenaran hadist riwayat ini, semoga bisa memberikan kemanfaatan bagi kita semua.
terutama jika anak-anak ku membaca nantinya...
Ya Allah berikanlah kesabara dan cahaya Ilmu bagi kami sekeluarga....
Aamiiin....
Love u my Husband, Love u my son...^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar